–Mishbahul Munir-
“Belajar fotografi harus paham
terlebih dahulu kamera yang dimiliki dan tahu dasar-dasar fotografi”
Siapa saja bisa memotret. Dengan tambahan pikiran kreatif dan
kerja keras, kita dapat menciptakan gambar hebat yang menunjukkan kreasi dan
interpretasi terhadap apa yang kita ihat dan jepret. Nah, seni mengabadikan
gambar dengan menggunakan kamera disebut dengan fotografi. Dalam menggunakan
kamera kita mengenal apa yang disebut dengan :
Fokus
Fokus merupakan titik api.
Rana
Keterangan gambar:
1.
Shutter plate
2.
Aperture covered by leaf shutter
3.
Aperture during exposure
4.
Leaf blade
5.
Catch mechanism
6.
Butterfly spring
Kecepatan rana merupakan tirai yang bergerak turun naik
didalam kamera yang berfungsi untuk mengatur berapa lama film hendak disinari.
Rana memiliki sinar dengan nomor : B-1-2-4-8-15-30-60-125-250-500-1000-2000.
Besar kecilnya satuan rana dapat ditentukan sendiri dengan mengatur besar dan
kecilnya satuan rana serta besar diafragmanya.
Ada beberapa rana dalam kamera. Diantaranya rana celah dan
rana pusat. Rana celah ada dua yaitu : ranah celah vertical dan horizontal.
Keduanya terletak dibagian dalam kamera. Dia bertugas menutup tirai dan mengikuti
fungsinya. Rana vertical menutup secara vertical dan yang horizontal menutup
secara horizontal. Sedangkan, rana pusat merupakan Rana yang terletak pada
lensa, letaknya berdampingan dengan diafragma dan menutupnya secara memusat.
Diafragma
Diafragma merupakan lubang dalam
lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Diafragma memiliki
beberapa ukuran atau satuan angka. Setiap lensa memiliki perbedaan bukaan
diafragma masing-masing. Biasanya, ukuran diafragma dimulai dengan 2,8 - 4 -
5,6 - 8 - 11 - 16 - 22. Besar kecilnya diafragma yang kita pilih menghasilkan
foto yang berbeda. Bukaan diafragma kecil akan menghasilkan ruang yang luas.
Sedangkan, bukaan diafragma besar akan membuat ruang tajam sempit ( blur ). Atau
mudahnya, diafragma artinya bukaan lensa. Efeknya, makin besar bukaan, maka
makin besar kecepatan yang dibutuhkan, speed makin tinggi. Efek lainnya, makin
besar bukaan, makin sempit untuk daerah diluar ruang tajam yang fokus.
Banyak cara dan tujuan penggunaan/pemilihan diafragma,
yang antara lain akan jelas mempengaruhi konteks dari foto yg kita buat. Misalkan,
untuk memotret landscape, dengan memakai kamera apapun, coba setel ke
diafragma paling sempit (angka paling besar) yang mungkin dicapai, lalu diimbangi
dengan penyetelan lama waktu bukaan seperlunya (perhatikan light meter). Tapi
khususnya untuk pemotretan malam, kadang kita tidak bisa mencapai bukaan paling
sempit karena terbatas waktu bukaan shutter yang tidak bisa terlalu
lama, apalagi di kamera prosumer yang biasanya terbatas hanya 13 detik maksimum.
Untunglah untuk kamera digital prosumer hal ini tidak masalah. Dengan ukuran sensor
yang jauh lebih kecil daripada satu frame film 35mm maka ruang tajam tetap
cukup luas, walaupun diafragma disetel ke f/3.5 misalnya. Dan, semuanya
tergantung bagaimana foto akan kita buat.
Pencahayaan
Pencahayaan adalah proses menyinari
film dengan cahaya yang datang dari luar kamera dengan mengontrol besarnya
diafragma dan kecepatan. Dalam pencahayaan, bukaan diafragma menentukan
intensitas cahaya yang diteruskan film. Sedangkan kecepatan rana menentukan jangka
waktu transmisi sinar.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan
untuk menentukan kombinasi yang tepat antara bukaan diafragma dengan kecepatan.
Salah satunya dengan memilih prioritas diafragma. Maksudnya, pemotret bisa
memilih berapa besar bukaan diafragma yang akan digunakan. Setiap bukaan diafragma
yang dipilih akan membuat hasil gambar yang berbeda. Bila pemotret memilih menggunakan
rana tinggi, maka itu berguna untuk menghentikan aksi. Sedang rana rendah akan membuat
aksi kabur. Sedang untuk mengambil gambar di tempat dengan cahaya yang kurang maka
untuk mengatasinya yang dilakukan oleh fotografer adalah memakai film dengan kecepatan
tinggi. Misalnya Iso 400, 600, 800 atau Iso 1600.
Cara untuk mengukur pencahayaan
biasanya ada di setiap kamera. Untuk mengukur cahaya
agar
sesuai, kita bisa mensiasatinya dengan cara mengukur telapak tangan atau
mendekatkan kamera kita sekitar 30 cm dari objek. Maka, kita akan mendapatan
pencahayaan yang sesuai. Untuk mendapatkan cahaya yang baik dalam pemotretan
biasanya kita akan memilih memotret pada jam 08.00-10.00 dan 16.00-18.00.
Biasanya dalam waktu ini, cahaya dalam kondisi yang baik, dan tak terlalu
keras.
Dalam pencahayaan ada beberapa
teknik yang harus diperhatikan. Diantaranya:
a.
Penerangan depan:
Sumber cahaya berasal dari depan objek. Cahaya ini akan menghasilkan gambar
yang datar.
b.
Penerangan belakang:
Sumber cahaya berasal dari belakang objek. Dengan sumber cahaya yang seperti
ini maka objek yang kita ambil menjadi shiluette (hitam). Pemotretan
dengan sumber cahaya dari belakang dilakukan bila kita ingin membuat sebuah
foto shiluete.
c.
Penerangan Samping:
Pemotretan dengan memakai sumber cahaya dari samping membuat objek yang kita
ambil akan nampak tegas. Biasanya cahaya ini berasal dari tambahan penerangan
lain seperti lampu, blitz dan lain sebagainya.
Lensa
Lensa adalah alat yang terdiri dari beberapa cermin
yang berfungsi mengubah benda menjadi bayangan, terbalik dan nyata. Lensa
terletak di depan kamera. Ada beberpa jenis lensa. Lensa normal, lensa lebar
(wide) dan lensa panjang atau biasa disebut dengan lensa tele. Lensa normal
berukuran fokus sepanjang 50 mm atau 55 mm untuk film berukuran 35 mm. Sudut pandang
lensa ini hampir sama dengan sudut pandang mata manusia. Selain lensa lebar,
ada juga lensa tele. Lensa lebar bisanya mempunyai lebar fokusnya 16-24mm.
Lensa ini cocok untuk mengambil gambar pemandangan. Lensa tele adalah lensa
yang memiliki focal length panjang. Lensa ini dapat digunakan untuk
memperoleh ruang tajam yang pendek dan dapat menghasikan prespektif wajah yang
mendekati aslinya. Lensa ini biasanya berukuran 85mm, 135mm dan 200mm.
Bisanya fotografer menggunakan lensa sesuai dengan
kebutuhannya. Bila ingin memotret
benda
atau objek yang dekat, atau memotret pemandangan, biasanya mereka menggunakan lensa
normal atau lensa dengan sudut lebar. Namun bila fotografer ingin mengabadikan
sebuah moment tertentu dengan jarak yang jauh, biasanya mereka menggunakan
lensa tele. Dengan demikian, mereka tak perlu repot untuk membidik objek, dan
kerja mereka akan semakin mudah.
Selain lensa normal dan lensa tele,
ada juga jenis lensa lainnya yang biasa disebut dengan lensa variasi atau lensa
special (special lense). Biasanya lensa ini digunakan untuk keperluan
tertentu. Contohnya fish eye lens (lensa mata ikan – 180 derajat). Memotret
dengan lensa ini fotografer akan memperoleh hasil yang unik. Namun, lensa ini
tidak berfungsi untuk menyaring sesuatu kecuali mengubah pandangan guna
mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.
Bila fotografer ingin mengambil
objek dengan ukuran kecil atau pemotretan berjarak dekat
(mendekatkan
pemotret ke objek), umumnya lensa yang dipakai adalah lensa makro. Lensa ini biasanya
juga dipakai untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima
dan distorsi minimal. Misalnya: untuk memotret bunga, serangga, dll.. Selain
peralatan, untuk menghasilkan sebuah foto yang baik kita juga harus
memperhatikan beberapa hal diantaranya: Komposisi, cahaya, garis, bentuk, tekstur,
rupa, warna dan vertical atau horizontal.
Komposisi
Komposisi adalah susunan objek foto
secara keseluruhan pada bidang gambar agar objek
menjadi
pusat perhatian (POI=Point of Interest). Dengan mengatur komposisi foto
kita juga dapat dan akan membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan
keseluruhan objek. Berbicara komposisi maka akan selalu terkait dengan kepekaan
dan “rasa” (sense). Untuk itu sangat diperlukan upaya untuk melatih
kepekaan kita agar dapat memotret dengan komposisi yang baik.
Ada beberapa cara yang dapat dipakai
untuk menghasilkan komposisi yang baik. Diantaranya:
Sepertiga
Bagian (Rule of Thirds)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto
sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga
bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga
bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan, di mana
kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto.
Sudut
Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto
adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini
sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu, jika
kita ingin mendapatkan satu moment dan mendapatkan hasil yang terbaik, kita
jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang.
Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian
cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai
kepada sudut yang ekstrim.
Komposisi
pola garis Diagonal, Horizontal, Vertikal, Curve
Didalam pemotretan Nature, pola garis
juga menjadi salah satu unsur yang dapat memperkuat objek
foto. Pola garis ini dibangun dari perpaduan elemen-elemen
lain yang ada didalam suatu foto. Misalnya pohon,
ranting, daun, garis cakrawala, gunung, jalan, garis atap
rumah dan lain-lain. Elemen-elemen yang membentuk
pola garis ini sebaiknya diletakkan di sepertiga
bagian bidang foto. Pola Garis ini dapat membuat komposisi foto menjadi lebih
seimbang dinamis dan tidak kaku.
Background
(BG) dan Foreground (FG)
Latar belakang dan latar depan adalah benda-benda yang
berada di belakang atau di depan objek inti dari suatu foto. Idealnya, BG dan
FG ini merupakan pendukung untuk memperkuat kesan dan fokus perhatian mata
kepada objek. Selain itu juga “mood” suatu foto juga ditentukan dari unsur-unsur
yang ada pada BG atau FG. BG dan FG, seharusnya tidak lebih dominan (terlalu
mencolok) daripada objek intinya. Salah satu caranya adalah dengan mengaburkan
(Blur) BG dan FG melalui pengaturan diafragma.
Beberapa teknik
sudut pengambilan (angle) sebuah foto, yaitu:
Pandangan
sebatas mata (eye level viewing); paling umum, pemotretan
sebatas mata pada posisi berdiri, hasilnya wajar/biasa, tidak menimbulkan
efek-efek khusus yang terlihat menonjol kecuali efek-efek yang timbul oleh
penggunaan lensa tertentu, seperti menggunakan lensa sudut lebar, mata ikan,
tele, dan sebagainya karena umumnya kamera berada sejajar dengan subjek.
Pandangan
burung (bird eye viewing); bidikan dari atas, efek yang tampak
subjek terlihat rendah, pendek dan kecil. Kesannya seperti ‘kecil’/hina
terhadap subjek. Manfaatnya seperti untuk menyajikan suatu lokasi atau landscape.
Low
angle camera; pemotretan dilakukan dari bawah. Efek yang
timbul adalah distorsi perspektif yang secara teknis dapat menurunkan kualitas
gambar, bagi yang kreatif hal ini dimanfaatkan untuk menimbulkan efek khusus.
Kesan efek ini adalah menimbulkan sosok pribadi yang besar, tinggi, kokoh dan
berwibawa, juga angkuh. Orang pendek akan terlihat sedikit ‘normal’.
Menggambarkan bagaimana anak-anak memandang ‘dunia’ orang dewasa. Termasuk juga
dalam jenis ini pemotretan panggung, orang sedang berpidato di atas mimbar yang
tinggi
Frog
eye viewing, pandangan sebatas mata katak. Pada posisi
ini kamera berada di bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak diarahkan ke
atas, tetapi mendatar dan dilakukan sambil tiarap. Angle ini digunakan pada foto
peperangan, fauna dan flora.
Waist
level viewing, pemotretan sebatas pinggang. Arah lensa
disesuaikan dengan arah mata (tanpa harus mengintip dari jendela pengamat).
Sudut pengambilan seperti ini sering digunakan untuk foto-foto candid
(diam-diam, tidak diketahui subjek foto), tapi pengambilan foto seperti
ini
adalah spekulatif.
High
handheld position; pemotretan dengan cara mengangkat kamera
tinggi-tinggi dengan kedua tangan dan tanpa membidik. Ada juga unsur
spekulatifnya, tapi ada kiatnya yaitu dengan menggunakan lensa sudut lebar (16
mm sampai 35 mm) dengan memposisikan gelang fokus pada tak terhingga (mentok)
dan kemudian memutarnya balik sedikit saja. Pemotretan seperti ini sering
dilakukan untuk memotret tempat keramaian untuk menembus kerumunan.
http://nerajulianielf.blogspot.co.id/2014/08/materi-tentang-photography.html
http://rumorkamera.com/catatan-kami/komposisi-fotografi-oleh-arbain-rambey/
http://www.kelasfotografi.com/2015/02/mengenal-macam-macam-sudut-pandang.html
http://rumorkamera.com/catatan-kami/komposisi-fotografi-oleh-arbain-rambey/
http://www.kelasfotografi.com/2015/02/mengenal-macam-macam-sudut-pandang.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar